Sabtu, 08 Desember 2012

Penyakit-penyakit Rohani dalam Hubungannya dengan Kesehatan Jasmani dan Sosial


BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar belakang
Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani. Unsur fisik yaitu berupa jasmani (raga) dan unsur psikis berupa rohaninya (jiwa). Jika unsur tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak dapat disebut sebagai individu lagi. Kedua unsur tersebut harus berjalan dengan seimbang dan harus tercukupi pemenuhannya. Kedua unsur tersebut dapat terganggu dengan adanya penyakit, khususnya penyakit rohani.
Penyakit rohani tersebut tentunya akan sangat berpengaruh kepada kesehatan jasmani seseorang, serta akan berpengaruh pula pada keadaan sosialnya.
1.2 Rumusan Masalah
Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan maka beberapa masalah yang dapat penulis rumuskan dan akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.      Pengertian sehat
2.      Pengertian kesehatan jasmani dan kesehatan rohani
3.      Sebab, macam-macam, gejala-gejala, dan metode pengobatan penyakit rohani.
1.3 Tujuan
1.      Memahami pengertian sehat
2.      Memahami penegertian kesehatan jasmani dan kesehatan rohani
3.      Mengetahui sebab, macam-macam, gejala-gejala, dan metode pengobatan penyakit rohani.





BAB II
Pembahasan
1.      Pengertian Sehat
Istilah sehat dalam kehidupan sehari-hari sering dipakai untuk menyatakan bahwa sesuatu dapat bekerja secara normal. Bahkan benda mati pun seperti kendaraan bermotor atau mesin, jika dapat berfungsi secara normal, maka seringkali oleh pemiliknya dikatakan bahwa kendaraannya dalam kondisi sehat. Kebanyakan orang mengatakan sehat jika badannya merasa segar dan nyaman. Bahkan seorang dokterpun akan menyatakan pasiennya sehat manakala menurut hasil pemeriksaan yang dilakukannya mendapatkan seluruh tubuh pasien berfungsi secara normal. Namun demikian, pengertian sehat yang sebenarnya tidaklah demikian.
Berikut beberapa pengertian sehat menurut para ahli :
1.      Sehat adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dengan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya (Perkin 1938).
2.      Sehat adalah keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa oleh ahlinya tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda penyakit atau kelainan (White 1977).
3.      Sehat adalah suatu keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (UU Kesehatan No. 23 tahun 1992).
Istilah sehat dalam kehidupan sehari-hari sering dipakai untuk menyatakan bahwa sesuatu dapat bekerja secara normal. Bahkan benda mati pun seperti kendaraan bermotor atau mesin, jika dapat berfungsi secara normal, maka seringkali oleh pemiliknya dikatakan bahwa kendaraannya dalam kondisi sehat. Kebanyakan orang mengatakan sehat jika badannya merasa segar dan nyaman. Bahkan seorang dokterpun akan menyatakan pasiennya sehat manakala menurut hasil pemeriksaan yang dilakukannya mendapatkan seluruh tubuh pasien berfungsi secara normal. Namun demikian, pengertian sehat yang sebenarnya tidaklah demikian.
Pengertian sehat menurut UU Pokok Kesehatan No. 9 tahun 1960, Bab I Pasal 2 adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan (jasmani), rohani (mental), dan sosial, serta bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan. Pengertian sehat tersebut sejalan dengan pengertian sehat menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1975 sebagai berikut: Sehat adalah suatu kondisi yang terbebas dari segala jenis penyakit, baik fisik, mental, dan sosial.
Batasan kesehatan tersebut di atas sekarang telah diperbaharui, bila batasan kesehatan yang terdahulu itu hanya mencakup tiga dimensi atau aspek, yakni: fisik, mental, dan sosial, maka dalam Undang-Undang N0. 23 Tahun 1992, kesehatan mencakup 4 aspek, yakni: fisik (badan), mental (jiwa), sosial, dan ekonomi. Batasan kesehatan tersebut diilhami oleh batasan kesehatan menurut WHO yang paling baru.
Pengertian kesehatan saat ini memang lebih luas dan dinamis, dibandingkan dengan batasan sebelumnya. Hal ini berarti bahwa kesehatan seseorang tidak hanya diukur dari aspek fisik, mental, dan sosial saja, tetapi juga diukur dari produktivitasnya dalam arti mempunyai pekerjaan atau menghasilkan sesuatu secara ekonomi. Bagi yang belum memasuki dunia kerja, anak dan remaja, atau bagi yang sudah tidak bekerja (pensiun) atau usia lanjut, berlaku arti produktif secara sosial. Misalnya produktif secara sosial-ekonomi bagi siswa sekolah atau mahasiswa adalah mencapai prestasi yang baik, sedang produktif secara sosial-ekonomi bagi usia lanjut atau para pensiunan adalah mempunyai kegiatan sosial dan keagamaan yang bermanfat, bukan saja bagi dirinya, tetapi juga bagi orang lain atau masyarakat.
Keempat dimensi kesehatan tersebut saling mempengaruhi dalam mewujudkan tingkat kesehatan seseorang, kelompok atau masyarakat. Itulah sebabnya, maka kesehatan bersifat menyeluruh mengandung keempat aspek. Perwujudan dari masing-masing aspek tersebut dalam kesehatan seseorang antara lain sebagai berikut:
1.      Kesehatan Fisik
Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.
2.      Kesehatan Mental
Kesehatan mental atau kesehatan jiwa mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual. Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran. Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya. Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa (Allah SWT dalam agama Islam). Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.
3.      Kesehatan Sosial
Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai.
4.      Kesehatan Ekonomi
Sehat jika ditinjau dari aspek ekonomi terlihat bila seseorang (dewasa) produktif, dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap hidupnya sendiri atau keluarganya secara finansial. Bagi mereka yang belum dewasa (siswa atau mahasiswa) dan usia lanjut (pensiunan), dengan sendirinya batasan ini tidak berlaku.

2.      Paradigma Sehat Menurut Islam
Kitab suci Al-Qur’an merupakan sumber pedoman, bimbingan, dan kekuatan bagi kaum muslim di seluruh penjuru di dunia. Melalui Al-Qur’an, islam membimbing manusia menuju hidup sehat baik lahir maupun batin.  Tidak sedikit hadis-hadis Nabi Muhamad yang mengandung nilai-nilai medis. Yang selanjutnya mempengaruhi perkembangan ilmu kedokteran Islam.
Berpedoman kepada Al-Qur’an dan al-sunah, Islam membimbing manusia menuju hidup sehat, yaitu prilaku takwa berupa prilaku yang ditandai ketaatan kepada sang Pencipta sebagai konsep kesehatan Islami. Islam menolak praktek kesehatan apapun yang bertentangan dengan ajaran islam. Misalnya memohon bantuan dengan benda yang dianggap keramat atau oarng ang memiliki kekuatan sedangkan amalan-amalannya bertentangan dengan ajaran Islam.
Pengertian kesehatan tidak dijumpai dalam al-Qur’an, walaupun hal ini tidak berarti bahwa al-Quran tidak mementingkan masalah kesehatan. Al-quran kelihatanya tidak ingin terlibat dalam perdebatan dalam pengertian kata-kata, melainkan lebih menukik kepada sebab-sebab yang dapat menimbulkan kesehatan, seperti perintah makan dan minum yang halal dan baik, tidak berlebihan, tidak memabukkan, dll.
Demikian pula kata ‘afiyah tidak dijumpai dalam al-qur’an. Melainkan terdapat dalam hadis Nabi yang artinya: “ Ya Alloh perkayalah diriku dengan ilmu, hiasilah diriku dengan ketakwaan dan percantiklah diriku dengan kesehatan yang sempurna”.
Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), merumuskan kesehatan sebagai “Kesehatan jasmani, ruhaniah, dan social yang dimiliki manusia sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri dengan mengamalkan tuntunan-Nya, memelihara, serta mengembangkannya. 
Kata-kata sehat selanjutnya menjadi sifat atau keadaan yang menyangkut kesehatan secara universal. Yaitu bukan hanya kesehatan jasmani dan rohani saja, melainkan juga kesehatan social (masyarakat).  Penjelasan secara rinci dapat diuaraikan sbb:
1.      Kesehatan Jasmani
Kesehatan jasmani dan fisik merupakan keadaan yang sangat penting dalam mendukung seluruh kegiatan. Pelaksanaan ibadah dalam Islam seperti shalat, puasa, dan ibadah haji hanya dapat dikerjakan dengan sempurna apabila keadaan jasmani dalam keadaan sehat. Kesehatan jasmani erat kaitannya dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan baik, yaitu makanan dan minuman yang selain secara hukum dinyatakan boleh dimakan dan diminum, juga harus dalam keadaan baik (thayib), yang dalam penilitian ahli kesehatan terkait dengan makanan yang mengandung gizi dan kalori menurut penilian ahli kesehatan.
Dalam ajaran islam upaya memelihara kesehatan jasmani dan fisik ini terkait dengan ajaran tentang bersuci (thaharah) seperti penggunaan air yang bersih dan mensucikan untuk keperluan memasak, minum, mandi, berwudhu,dan sebagainya, ketentuan barang-barang yang dinilai sebagai najis, kotor, dan menjijikkan, mandi, berwudhu, istinja’, buang air, tayamum, mencuci pakaian, tempat dan lingkungan.
Ajaran tentang thaharah yang terkait dengan pelaksanaan berbagai ibadah dalam islam yang demikian detail dan mendalam itu, selain ditujukan untuk persyaratan ibadah agar dianggap sah secara hukum, tetapi juga agar timbul budaya, sikap hidup dan kepribadian yang mencintai dan peduli terhadap kebersihan dalam arti seluas-luasnya. Upaya memelihara kesehatan jasmani dan fisik ini diikuti pula dengan ketentuan adanya sejumlah barang-barang yang dilarang untuk dikonsumsi. Seperti, bangkai, anjing, babi, air seni (urine), dll. Dengan demikian, tampak bahwa ajaran islam sangat mementingkan kesehatan jasmani dan fisik yang dilakukan dengan cara memelihara kebersihan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan seterusnya yang secara keseluruhan terintegrasi dalam pelaksaan ibadah.
1.      Kesehatan Rohani
Kesehatan jasmani dan fisik dalam ajaran islam memiliki hubungan yang erat dengan kesehatan yang bersifat rohaniah. Orang yang sedang sakit gigi misalnya, menyebabkan pikiran dan perasaannya terganggu, takut jika penyakitnya tidak dapat disembuhkan. Demikian pula orang yang terganggu kesehatan rohaninya seperti tergoncang jiwanya akibat mendapatkan musibah atau dihadapkan pada berbagai permasalahan yang menyebabkan tidak nafsu makan, badan lemas, dan pada akhirnya sakit.
Al-Qur’an banyak berbicara tentang penyakit jiwa. Mereka yang lemah iman dinilai sebagai orang yang memiliki penyakit di dalamnya dadanya. Penyakit- penyakit kejiwaan pun beraneka ragam dan bertingkat-tingkat. Sikap angkuh, benci, dendam, fanatisme, antaralain disebabkan karena bentuk keberlebihan seseorang. Sedangkan rasa takut, cemas, pesisme, rendah diri, dll adalah karena kekurangannya.
2.      Kesehatan Sosial
Hidup bermasyarakat dalam arti seluas-luasnya adalah merupakan salah satu naluri manusia. Ia tidak bisa dan tidak mungkin mampu hidup sendirian. Berdasarkan petunjuk Al-Qur’an dan hadis, kita menjumpai ajaran etika bermasyarakat tersebut antara lain ajaran tolong-menolong, saling menasehati, menghormati, saling asah, asuh, dan asih. Ajaran islam tentang perlunya membangun masyarakat yang sehat dapat pula dari hampir seluruh misi, hikmah, dan pesan ang terdapat dalam ajaran ibadah dalam islam. Salat misalnya, dapat ditujukan agar mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Zakat ditujukan untuk menunjukkan kepedulian social, dll.
Dalam tinjauan ilmu fiqh, kesehatan sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai kebersiahan dan kemaslahatan yang diperoleh ole kita. Beberapa ajaran dan tuntunanan tersebut mengandung kajian dan nilai-nilai kedokteran, antara lain:
*      Cara bersuci yang diajarkan Nabi
*        Larangan kencing di air tergenang
*      Sunah untuk berkhitan
*      Perintah memotong kuku, membersihkan bulu ketiak, dan kemaluan
*      Kewajiban mandi selepas bersetubuh
*      Keharusan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan
Sedangkan dalam tinjauan tasawuf, dengan adanya kesehatan pada jasmani, maka kita akan dapat laksanakan ibadah dengan khusyu’ tanpa adanya keluhan rasa sakit. Serta juga tidak menghalangi aktifitas ibadah yang akan kita laksanakan.
Dalam tinjauan akhlaq, rohani dan jiwa yang sehat akan membebaskan diri kita dari segala penyakit hati, seperti dengki, iri hati, dll.  Kesehatatan rohani dapat kita latih dengan menerapkan sifat-sifat terpuji yang telah diajarkan oleh nabi kepada kita.
3.      Penyakit Jasmani dan Rohani
Kita sudah tahu dan yakin bahwa manusia itu terdiri dari jasmani dan rohani. Jasmani adalah bagian yang kasar, yang menurut Tuhan penciptanya, diciptakan dari tanah, seperti firmankan Allah dalam S. Sajdah ayat 7 :
Artinya : “Dan Ia (Allah) memulai penciptaan manusia itu dari pada tanah”.
Adapun rohani adalah bagian yang halus, yang dirahasiakan Tuhan tentang hakekatnya. Dalam S. Al Isra’ ayat 85 Allah berfirman
Artinya : “Mereka akan bertanya kepada Engkau (Muhammad) dari hal Roh Katakanlah, soal roh itu adalah urusan Tuhanku”
Karena itu manusia tidak akan mengetahui hakekatnya untuk selama-lamanya. Yang dapat diketahui manusia rohani ini, hanyalah gejala-gejala saja. Gejala-gejala itu antara lain menangkap dan menyimpan pengertian, mengingat, berfikir, berkemauan, gembira, sedih, susah dan sebagainya.
Jasmani dan rohani itu bisa sehat dan bisa pula sakit. Sehat dan sakitnya jasmani sudah cukup jelas bagi kita. Untuk perawatan sakit jasmani, sudah tersedia dokter, obat dan rumah sakit yang amat banyak. Tetapi sehat dan sakitnya rohani, belum begitu kita ketahui, bahkan sering tidak kita hiraukan. Karena rohani ini urusan Tuhan, maka yang tahu sehat dan sakitnya itu hanyalah Dia saja. Tuhan telah memberi tahukan, bahwa rohani pada asalnya adalah sehat :
“ Dan apa-apa yang disisi Allah itu adalah baik”
Yang baik itu antara lain ialah yang sehat. Kemudian rohani itu bisa jadi sakit. Allah telah memberi tahukannya antara lain dalam S. Al baqarah ayat 10.
Artinya : “ Dalam hati (rohani) mereka ada penyakit, kemudian menambah Allah akan penyakit itu.”
Kemudian pada Surah yang lain, yaitu Surah Al-Isra ayat 93 Allah SWT Berfirman yang artinya : “Dan kami turunkan Al-Qur’an adalah menjadi obat penawar dan merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman”.
Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk selalu berdo’a : Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada Engkau, sehat wal afiat didunia dan diakhirat (H.R. Hakim).
Sehat walafiat selalu kita memohon kepada Allah SWT, agar kita terhindar dari segala macam penyakit. Penyakit manusia ada 2 macam yaitu yang pertama penyakit jasmani dan yang kedua penyakit rohani.
1.      Penyakit Jasmani
Penyakit jasmani ialah penyakit badan, penyakit yang tampak dan dapat kita rasakan, penyakit jasmani hanya kita saja yang dapat merasakan sedangkan orang lain tidak mampu merasakan. Penyakit jasmani dapat disembuhkan oleh dokter dan dapat mudah dideteksi dengan bantuan medis.
2.      Penyakit Rohani
Pengertian Penyakit Rohani
1.      Penyakit rohani ialah sifat buruk dan merusak dalam batin manusia yang mengganggu kebagiaan.
2.      Penyakit rohani ialah sikap mental yang buruk, merusak dan merintangi pribadi memperoleh keridhaan Allah.
3.      Penyakit rohani ialah sifat dan sikap dalam hati yang tidak diridhai Allah, sifat dan sikap mental yang cenderung mendorong pribadi melakukan perbuatan buruk dan merusak.
Singkatnya dapat kita katakan bahwa penyakit rohani ialah sifat dan sikap yang buruk dan merusak rohani, yang akan mengganggu kebahagiaan manusia, merintanginya untuk memperoleh keridhaan Allah dan mendorongnya untuk berbuat buruk dan merusak. Karena itulah penyakit ini sangat berbahaya bagi manusia.
Dalam kenyataan kehidupan manusia, soal sakit jasmani, dijadikan persoalan yang amat besar. Karena itu diadakan Fakultas Kedokteran, sekolah apoteker, sekolah farmasi, dan sekolah-sekolah lain diadakan kursus-kursus kesehatan, diciptakannya bermacam-macam alat dan obat untuk pengobatan, dan didirikan rumah sakit-rumah sakit yang besar dan kecil untuk tempat perawatan. Semua itu dengan pengerahan tenaga, biaya dan fikiran yang hebat sekali. Tetapi untuk penyakit rohani, boleh dikata belum ada usaha yang nyata, bahkan seperti telah kita katakan diatas sering tidak dihiraukan, malah ada yang berusaha dengan sekuat biaya, tenaga dan fikiran untuk menyebarkan bibit penyebabnya kesegenap lapisan masyarakat dengan rasa bangga dan mengeruk keuntungan yang lumayan untuk kepentingan pribadi-pribadi penyebar itu. Susahnya lagi yang disebari bibit penyakit itu juga merasa senang dan bangga sehingga tersebarlah penyakit rohani yang maha hebat ditengah-tengah masyarakat manusia. Pada hal akibat penyakit jasmani hanyalah bagi yang bersangkutan saja, sedangkan akibat bagi penyakit rohani sangat hebat, yaitu mengganggu kebahagiaan pribadi dan masyarakat manusia serta dunia dan akhirat. Untuk didunia Allah memfirmankan :
“Nyatalah bahwa kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia sendiri.”
4.      Penyebab Penyakit Rohani
Tiap sesuatu baru akan terjadi kalau ada penyebabnya, tanpa sebab tidak mungkin sesuatu akan terjadi. Hal ini sudah merupakan hukum alam (sunnatullah) yang tetap. Maka begitu pulalah halnya dalam penyakit. Sesuatu penyakit tidak akan timbul (berjangkit) tanpa sebab. Penyebab dari penyakit jasmani ialah kuman-kuman (bakteri). Sedang penyebab dari penyakit rohani ialah :
1.      Nafsu
Sebab nafsu ini menimbulkan sifat dan sikap yang buruk dalam batin manusia serta mendorongnya untuk berbuat jahat.
Allah berfirman :
Artinya : “ Sesungguhnya nafsu itu hendak mendorong (manusia) kepada kejahatan (QS. Yusuf: 53).
Bahkan Allah memperingatkan, bahwa apabila nafsu itu dituruti akan membawa rusak segala-galanya, yang ada di langit, dibumi dan yang ada pada langit dan bumi itu.
Artinya : “ Dan jikalau kebenaran itu tunduk kepada hawa nafsu mereka, sungguh akan rusaklah langit, bumi dan apa yang ada pada keduanya.” (QS. Al Mu’minun 71).
2.      Syetan
Sebab syetan itu berkeinginan agar manusia mengerjakan yang keji dan yang mungkar, serta berkecamuknya di kalangan umat manusia itu permusuhan dan kemarahan. Kalau ini sampai terjadi akan hilanglah kebahagiaan manusia dan Allah akan menjadi marah. Allah memfirmankan:
Artinya : “Karena sesungguhnya syetan itu mendorong manusia untuk berbuat keji dan mungkar.” (QS. An Nur 21).
“Keinginan syetan itu hanyalah hendak membuat bersimaha rajalelanya diantara manusia permusuhan dan kemarahan.” (QS. Al Maidah 91).
3.      Orang kafir
Sebab orang kafir ini tidak senang kalau umat Islam memperoleh rahmat dari tuhan. Allah memberitahukan :
Artinya : “Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik tidak suka, jika Allah menurunkan atas kamu kebaikan” (QS. Al baqarah 105).
Untuk menghalangi turunnya kebaikan Allah kepada umat Islam itu mereka akan selalu memerangi umat Islam, Allah berfirman:
Artinya : “Dan mereka akan tetap memerangai kamu, sehingga mereka memalingkan kamu dari agamamu.” (QS. Al-Baqarah:217).
Perang ini mereka lakukan dengan dua cara yaitu:
·         Perang panas, yaitu dengan senjata api (bedil).
·         Perang dingin, yaitu dengan senjata kebudayaan, dengan membuat sarana-sarana yang mengobarkan nafsu dan menyenangkan syetan, sehingga umat Islam menjadi umat yang bergelimang didalam kemaksiatan
Untuk tujuan itu mereka keluarkan biaya yang tidak sedikit, seperti telah dikatakan Allah dalam firmanNya yang artinya:
“Sesungguhnya orang-orang kafir itu menafkahkan hartanya untuk menghalangi kamu dari jalan Allah.” (QS. AL Anfal 36).
Mengikuti jalan Allah itu adalah keridhaan Allah. Jadi orang kafir merintangi umat Islam dari keridhaan Allah. Karena itu mereka (orang kafir) menyebabkan penyakit rohani pada umat Islam.
5.      Gejala Penyakit Rohani
Setiap penyakit mempunyai gejala, yaitu tanda-tanda yang menyatakan bahwa seseorang terserang oleh sesuatu penyakit. Misalnya: pegal linu, kepala pusing dan salesma mengalir adalah tanda-tanda dari penyakit influenza.
Penyakit rohani ini mempunyai gejala-gejala tertentu, gejala-gejalanya antara lain ialah :
1.      Gelisah dan keluh kesah
Allah berfirman:
“Dan barang siapa yang berpaling dari mengingat Allah, maka sesungguhnya baginya adalah kehidupan yang sempit.” (QS. Thoha 124).
Menurut A. Hasan yaitu kehidupan yang sempit dalam lapangan rohani. Menurut Dr. Zakian Derajat manifestasi kesempitan rohani itu ialah rasa gelisah, keluh kesah, takut, putus asa dan sebagainya. Menurut Dr. Abu Hanifah inilah sumber dari segala macam krisis yang timbul di dalam kehidupan manusia.
Memanglah orang yang dalam keadaan gelisah dan takut perbuatannya sering tidak menentu (ngawur). Tetapi orang sehat rohaninya tidak akan merasa gelisah dan takut apabila putus asa.
Allah berfirman :
Artinya : “ Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak pernah merasa takut dan tidak pula pernah bersedih.” (QS. Yunus 62).
2.      Pendangkalan rasa, yaitu tidak cepat terkesan dengan rahmat Allah. Sesungguhnya dia telah banyak menerima rahmat Allah, tetapi ia belum juga merasakan dan belum juga mau berterima kasih. Bahkan dia menerima rahmat Allah itu dengan sikap dan perbuatan durhaka. Apabila ia mengalami malapetaka baru ia sadar.
Allah berfirman :
Artinya : “ Maka apabila manusia itu ditimpa malapetaka, ia menyeru Tuhannya dan kembali kepadaNya, tetapi kemudian apabila ia memperoleh rahmat dari Allah sebahagian dari mereka mempersekutukanNya.”
3.      Liar terhadap kebenaran
Kebenaran itu dari Allah :
“Kebenaran itu dari Tuhanmu.” (QS. Ali Imran 60).
Orang-orang yang sakit rohaninya tidak senang kepada kebenaran itu.
Allah berfirman :
Artinya : “Dan apabila disebut nama Allah semata, tidaklah senang hati orang-orang yang tidak beriman dengan hari akhir itu, tetapi apabila disebut orang-orang selain Allah, ketika itu mereka menjadi gembira.” (QS. Az zumar 45).
Umpama dalam ceramah, khutbah dan kuliah, apabila yang dikemukakan sebagai alasan atau dalil adalah ayat-ayat Qur’an atau Sunnah, ia kurang senang atau belum puas, malah kadang-kadang mengejek, tetapi apabila yang dikemukakan sebagai dalil dan alasan itu kata Profesor Insinyur, Drs.. dan SH. Ia akan menjadi senang, puas dan dinyatakan sebagai ilmiah.
4.      Berprasangka buruk
Allah berfirman :
Artinya : “Dan apabila orang-orang munafik dan orang-orang yang pada hatinya ada penyakit mengatakan, tidak adalah yang dijanjikan oleh Allah dan rasulNya, melainkan tipuan semata” (QS. Al Ahzab 12).
Mereka mengatakan ini sebelum mengadakan penyelidikan dan mengadakan experimen. Jadi sebelum dibuktikan kebenarannya. Jadi dengan purbasangka buruk saja.
5.      Suka menghasut (memfitnah)
Allah berfirman :
Artinya : “Sesungguhnya jika tidak berhenti orang munafik dan mereka yang dihati-hatinya ada penyakit dan penghasut-penghasut di Madinah, niscaya Kami izinkan kamu memerangi mereka kemudian mereka tidak akan bertetangga denganmu melainkan sedikit saja.” (QS. Al Ahzab 60 ).
Ayat ini :
·         Menyejajarkan orang munafik dan orang yang berpenyakit rohani dengan penghasut.
·         Jadi golongan itu tidak disenangi (diridhai) Allah.
·         Jadi penghasut adalah menghalangi keridhaan Allah. Dengan demikian merupakan gejala penyakit rohani (penyakitnya sendiri).
6.      Lemah dan daya amal
Orang yang sehat rohaninya pasti akan kuat/giat beramal. Karena pada dasarnya manusia dikirim Allah kebumi ini adalah untuk beramal, agar tugas yang dipikulkan Allah kepadanya terlaksana sesuai dengan rencana dengan daya amal yang lemah. Kalau ada tanda-tanda kelemahan amal, tentu ada sesuatu yang tidak beres disana. Itulah beberapa gejala penyakit rohani itu.

6.      Macam-macam Penyakit Rohani
Penyakit rohani ini amat banyak, yaitu segala macam sifat dan sikap mental yang mengganggu kebahagiaan, merintangi untuk memperoleh ridha Allah dan yang mendorong untuk berbuat buruk. Tetapi disini akan kita bicarakan beberapa saja diantaranya.
1.      Nifak
Orang yang punya penyakit ini disebut munafiq mereka mengatakan apa-apa yang tidak ada di dalam hati mereka. Allah memfirmankan :
Artinya : “Dan sebahagian dari pada manusia berkata : kami telah beriman kepada Allah dan hari akhir, pada hal mereka buka orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman pada hal mereka tidak lain, melainkan menipu diri mereka sendiri, tetapi mereka tidak menyadarinya. Dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakit mereka, dan bagi mereka azab yang pedih, tersebab mereka telah berdusta.” (QS. Al Baqarah 8,9,10).
Azab bagi orang yang berpenyakit ini amat hebat yaitu dikerak neraka.
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu pada keraknya dari neraka” (S. An Nisa’:145).
2.      Hasad (iri hati)
Yaitu orang yang benci kepada orang yang diberi nikamt oleh Allah dan ingin agar nikmat itu terlepas dari padanya. Penyakit ini menghabiskan semua pahala amal yang telah dikerjakan, Nabi menyabdakan :
“Jauhilah iri hati, karena ia akan memakan semua kebaikan (pahala) sebagaiaman api memakan kayu bakar yang kering.” (HR. Abu Daud).
3.      Sedih, duka cita, lemah kemauan, malas, pengecut, senang berhutang, dan senang menganiaya, sebab itu Nabi Muhammad menganjurkan agar selalu membaca do’a untuk berlindung kepada Allah, agar ia jangan terkena penyakit tersebut. Kalau bisa pada setiap sesudah sholat atau sebelum membaca salam.
“Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari pada kesedihan, kedukaan, kelemahan, malas, pengecut, kikir, banyak hutang dan kezaliman manusia.”
4.      Tabzir (mubazir) yaitu menyia-nyiakan harta
Allah memfirmankan :
“ Sesungguhnya orang-orang yang mubazir itu adalah kawan-kawannya syetan.” (QS. Al Isra’ 27).
Syetan adalah penyebab penyakit rohani, maka orang yang menjadi kawannya, tentu telah dihinggapi penyakit rohani itu.
5.      Ananiyah atau egoistis atau mementingkan diri sendiri
Allah memfirmanakan :
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah bersaudara” (QS. Al Hujurat 14).
“Sesungguhnya umatmu ini, umat yang satu” (QS. Al Anbiya 92).
Maka kalau umat Islam mementingkan diri sendiri saja, berarti dia durhaka kepada Allah. Orang durhaka dimarahi Allah. Jika orang yang mementingkan diri sendiri, merintangi keridhaan Allah, jadi ia berpenyakit rohani.
6.      Al Bukhtan atau berdusta atau mengada-adakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada
Berdusta ini salah satu tanda munafiq. Munafik adalah orang yang berpenyakit rohani. Berdusta tidak diridhai oleh Allah dan juga oleh manusia.
7.      Takabbur atau membesarkan diri atau merasa diri lebih dari orang lain
Rasulullah  berfirman :
“Takabbur itu adalah selendangKu” (Hadits Qutsi).
Maka kalau manusia memakainya sangat dimarahi oleh Tuhan.
Itulah beberapara diantara sekian banyak penyakit rohani, kalau mau memperdalamnya silahkan membaca buku-buku akhlaq.
8.      Riya
Riya adalah penyakit yang diderita seseorang yang selalu ingin dipuji, ingin dilihat orang dalam beramal. Tidak ada keikhlasan dalam beribadah dan beramal. Apa yang telah disedekahkan harus diumumkan dan harus diketahui masyarakat.
9.      Sombong
Orang yang dihinggapi penyakit ini selalu memandang rendah orang lain, dia merasa dirinya saja hebat. Timbulnya penyakit disebabkan beberapa penyebab, antara lain karena kedudukan atau pangkatnya. Sebelum menduduki kedudukan dia sangat ramah terhadap orang, tapi dalam perjalanan waktu setelah menduduki suatu kedudukan, bersamaan dengan itu terjadi perubahan sikap. Senyum dan keramahan yang dulu menghilang. Sahabat yang dulunya akrab karena sama-sama menderita, sekarang diacuhkan, malahan pura-pura tak dikenal.
10.  Kikir
Seseorang yang dihinggapi penyakit ini sangat susah mengeluarkan hartanya untuk tujuan amal. Dia selalu berpikir bahwa dengan membelanjakan hartanya untuk tujuan amal akan mengurangi hartanya.
11.  Rakus
Rakus yang merupakan penyakit rohani adalah rakus akan harta. Manusia yang dihinggapi penyakit ini tidak pernah puas apa yang dimilikinya. Yang merasuk pikirannya adalah bagaimana mendapatkan harta sebanyak-banyaknya. Hal ini menyeret manusia melakukan tindakan tak terpuji (tindakan haram) misalnya korupsi, mengeksploitasi sumber daya alam secara tidak terkendali (over exploitation) tanpa tanggung jawab moral, yang berujung pada hancurnya sumber daya alam dan lingkungan yang pada akhirnya akan menyengsarakan masyarakat.
7.      Kerusakan yang Ditimbulkan Penyakit Rohani
Oleh setiap penyakit tentu ada yang dirusakkannya. Makin berat penyakit itu makin besar/berat kerusakan yang ditimbulkannya. Begitu juga penyakit rohani menimbulkan bermacam-macam kerusakan antara lain :
1.      Merongrong ketenangan, ini berarti meruntuhkan kebahagiaan.
2.      Menjauhkan diri dari Tuhan. Sifat-sifat yang ditimbulkannya, dimarahi Tuhan, dan menjadikan manusia jadi durhaka kepada Tuhan.
3.      Melemahkan daya amal. Kalau malas beramal akan membawa kerugian bagi akhirat kita.
4.      Menimbulkan psiko neurosa. Mulanya terjadi ketidakberesan pada saraf, kemudian merubah sikap terhadap diri sendiri dan orang lain, dengan sikap buruk.
5.      Merusak jasmani. Kini sudah dibuktikan bahwa banyak penyakit jasmani, yang disebabkan oleh sakitnya rohani. Kini sudah dikembangkan suatu ilmu yang bernama psychosomatik, yaitu ilmu yang mempelajari dan mengobati penyakit jasmani yang disebabkan oleh sakit rohani. Banyak sudah dicobakan orang pengobatan penyakit jasmani yang disebabkan oleh sakit rohani itu dengan do’a, zikir dan shalat. Hasilnya amat memuaskan. KH, SS Jami’an telah membukukan kasus-kasus yang dihadapi beliau di RS. Cipto Jakarta dengan judul “Islam Psychosomatic”.
8.      Metode Pengobatan
Nabi Muhammad SAW bersabda :
“Bagi setiap penyakit itu ada obatnya” (HR. Muslim).
Dalam mengobati penyakit rohani ini ada metodenya sendiri , antara lain :
1.      Beragama/beriman
Allah berfirman :
“Orang-orang yang beriman dan beramal sholeh adalah kebahagiaan bagi mereka dan tempat kembali yang baik” (QS. Ar Ra’du 29).
Yang berbahagia ialah yang sehat rohani. Menurut Islam kebahagiaan itu ialah masuk syorga, Allah berfirman :
“Dan Adapun orang-orang yang berbahagia itu, tempatnya didalam syorga, mereka kekal didalamnya.” (QS. Hud 108).
Yang bisa masuk syorga itu ialah yang sehat rohaninya. Allah berfirman:
“Pada hari itu tidak ada gunanya harta dan anak. Kecuali yang datang kepada Allah dengan rohani yang sehat” (QS. Asy Syu’ara’ 88-89).
Agama diturunkan Allah untuk obat rohani.
“Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran (agama) dari Tuhanmu, untuk obat bagi rohani” (QS. Yunus 57).
2.      Tobat
Menyesali atas segala kesalahan meninggalkan kesalahan itu Bertekad tidak akan mengulangi lagi untuk selama-lamanya. Orang yang telah tobat ini, menjadi bersih/sehat rohaninya kembali. Nabi Menyabdakan :
“Orang yang tobat dari dosa sama seperti orang yagn tidak berdosa (HR. Baihaqi).
Bahkan Allah dalam surat Furqan ayat 70 bemfirman :
“Kecuali orang-orang yang tobat, dan beriman dan mengerjakan amal sholeh, mereka itu diganti Allah kejahatannya dengan kebaikan, dan Allah itu Maha Pengampun dan Penyayang”.
Jadi orang-orang yang telah tobat, akan diganti oleh Allah kejahatannya dengan kebaikan. Dengan demikian, kejahatan karena sakit, kebaikan karena sehat. Jadi tobat menyembuhkan penyakit rohani.
3.      Mawas diri (waspada)
Nabi menyabdakan :
“Berbahagialah orang yang sibuk dengan aibnya sendiri, dari pada dengan aib orang lain.” (HR. Al Bazar).
Mawas diri ialah memandang dalam segala gerak-gerik badan dan batin. Orang yang seperti ini, tidak mungkin akan melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk. Karena setiap perbuatan buruk itu akan jelas nampak olehnya. Jadi dengan kewawspadaan penyakit rohani dapat disembuhkan.
4.      Sadar
Sadar yaitu mengerti dan menghayati. Maka yang sadar tidak akan mau mengerjakan yang buruk. Sebab ia mengerti bahwa itu buruk, dan menghayati keburukannya. Dengan demikian untuk penyembuhan penyakit rohani, pengertian harus diperhalus/diperdalam, dan penghayatan kepada yang baik diperbanyak. Allah berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu, apabila mengenai mereka gangguan syetan, mereka ingat dan mereka sadar.” (QS. Al A’raf).
Karena itulah mereka tidak bisa dihinggapi penyakit rohani. Sebab begitu penyebabnya mengenai mereka, mereka cepat ingat dan sadar.
“Sesungguhnya hamba-hambaKu (taqwa) tidak ada kekuasaan bagimu (syetan) atas mereka” (QS. Al Hijr:42).
5.      Ibadat
Terutama shalat, zikir, dan do’a.
“Yang beriman dan tenteram hati mereka dengan ingat kepada Allah. Ketahuilah dengan ingat kepada Allah, bisa tentram hati manusia” (QS. Ar Ra’du 28).
Hati yang tentram adalah tanda sehat. Untuk mengingat Allah itu yang utama adalah sholat.
“Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (S. Thoha 14).
Sedang do’a adalah jantung ibadah.
“Do’a itu adalah jantung ibadah.” (HR. Turmudzi). Jadi dengan ibadah terutama sholat, zikir dan do’a akan membuat rohani sehat.
6.      Amal-amal sholeh yang lain
“Demikianlah, barang siapa yang membesarkan syi’ar agama Allah sesungguhnya itu adalah bukti dari pada rohani yang sehat” (QS. Al Hajj 32).
Itulah diantara lain, metode pengobatan penyakit rohani itu. Karena itu marilah beragama dengan baik, beribadat, berdo’a, berzikir dan beramal sholeh yang banyak agar rohani kita selalu sehat.
9.      Penyakit rohani dan hubungannya dengan keadaan sosial
Penyakit rohani adalah penyakit yang sangat berbahaya, bukan hanya mempengaruhi kesehatan jasmani seseorang akan tetapi juga mempengaruhi keadaan sosial seseorang. penyakit rohani yang menimpa seseorang dapat berdampak luas baik terhadap masyarakat luas, maupun lingkungan alam. Berikut ini dijelaskan penyakit rohani dan dampaknya terhadap kesehatan jasmani dan sosial :
Yang pertama yaitu rakus, rakus terhadap kekuasaan, maka seseorang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan tersebut. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Niccola Machiavelli dalam bukunya The Prince, beliau menyatakan “untuk berkuasa dan mempertahankan kekuasaan haruslah menggunakan tipu muslihat, licik, dan dusta, digabung dengan penggunaan kekuatan dan penggunaan kekejaman dan mengabaikan pertimbangan moral”. Pendapat beliau ini banyak dipraktikkan para penguasa yang rakus kekuasaan, sehingga sering diibaratkan bahwa nafsu kekuasaan seperti meminum candu, sekali meminum akan minum terus, sekali berkuasa akan berusaha berkuasa terus dan mempertahankan kekuasaannya dengan cara apapun. Disamping rakus kekuasaan, rakus yang merupakan penyakit rohani adalah rakus akan harta. Manusia yang dihinggapi penyakit ini tidak pernah puas apa yang dimilikinya. Yang merasuk pikirannya adalah bagaimana mendapatkan harta sebanyak-banyaknya. Hal ini menyeret manusia melakukan tindakan tak terpuji (tindakan haram) misalnya korupsi, mengeksploitasi sumber daya alam secara tidak terkendali (over exploitation) tanpa tanggung jawab moral, yang berujung pada hancurnya sumber daya alam dan lingkungan yang pada akhirnya akan menyengsarakan masyarakat.
Nabi Muhammad saw bersabda;
“kalau manusia diberikan satu hamparan emas, maka dia mau lagi yang kedua, ketiga dan seterusnya. Nafsu memburu harta ini akan berhenti setelah perutnya dimasuki tanah (mati)”.
Manusia jenis ini mencari harta bukan karena didorong kebutuhan (need) tapi didorong oleh kerakusan (greedy). Misalnya para koruptor sesungguhnya apa yang dimilkinya sudah melimpah, sudah jauh melampaui kebutuhannya, tapi didorong oleh sifat kerakusan, maka apa yang dimilikinya dianggap masih belum cukup.
Penyakit kedua adalah bangga terhadap kemewahan. Orang yang dihinggapi penyakit ini merasa terangkat status sosialnya apabila dapat mempertontonkan kemewahan yang dimilkinya. Biasanya orang macam ini kurang peka terhadap penderitaan masyarakat sekitarnya. Malahan terkadang mengisolasi diri dari pergaulan orang sekitarnya. Sering rumahnya yang besar dan mewah dipagari dengan pagar yang mengisolasi diri dengan masyarakat sekitar.
Penyakit yang ketiga adalah dengki (hazad). Penyakit ini ditandai dengan merasa tidak senang terhadap kesuksesan orang lain. Dalam dirinya selalu dirasuki pikiran negatif (negative thinking). Orang jenis ini dapat diumpamakan seperti kayu yang dimakan bubuk, dari luar kelihatannya utuh, tapi di dalam keropos. Sering berusaha melakukan cara-cara yang tak terpuji untuk merusak orang lain, misalnya menciptakan fitnah, menjadi provokator. Dia sangat senang kalau orang menderita, sebaliknya dia sangat kurang senang kalau orang yang didengkinya mendapatkan kesenangan atau kesuksesan. Sering pula terjadi penghianatan terhadap orang yang mengangkat dan memperbaiki nasibnya. Setelah memiliki kedudukan, maka dalam perjalanan waktu berbalik berusaha untuk menghancurkan orang yang telah berjasa memperbaiki nasibnya tersebut.
Penyakit yang keempat adalah riya. Jenis penyakit ini adalah penyakit yang diderita seseorang yang selalu ingin dipuji, ingin dilihat orang dalam beramal. Tidak ada keikhlasan dalam beribadah dan beramal. Apa yang telah disedekahkan harus diumumkan dan harus diketahui masyarakat. Boleh saja sedekah diumumkan dengan niat agar orang lain mengikutinya. Jadi sangat tergantung pada niat.
Penyakit kelima adalah kikir. Seseorang yang dihinggapi penyakit ini sangat susah mengeluarkan hartanya untuk tujuan amal. Dia selalu berpikir bahwa dengan membelanjakan hartanya untuk tujuan amal akan mengurangi hartanya. Khusus orang muslim diajarkan bahwa harta yang kita miliki terdapat hak orang lain, kita menzalimi orang miskin/fakir ketika kita tidak memberikan haknya. Padahal tidak ada orang jatuh miskin karena banyak mengeluarkan harta untuk beramal, malahan hartanya akan bertambah dan berkembang.
Penyakit yang keenam adalah sombong. Orang yang dihinggapi penyakit ini selalu memandang rendah orang lain, dia merasa dirinya saja hebat. Timbulnya penyakit disebabkan beberapa penyebab, antara lain karena kedudukan atau pangkatnya. Sebelum menduduki kedudukan dia sangat ramah terhadap orang, tapi dalam perjalanan waktu setelah menduduki suatu kedudukan, bersamaan dengan itu terjadi perubahan sikap. Senyum dan keramahan yang dulu menghilang. Sahabat yang dulunya akrab karena sama-sama menderita, sekarang diacuhkan, malahan pura-pura tak dikenal. Penyebab lain dari timbulnya kesombongan adalah kepintaran. Orang yang pintar kadang-kadang dihinggapi penyakit sombong, merasa dia saja yang benar, tidak mau menerima pendapat dan kritikan orang lain. Penyebab lain adalah kekayaan. Kadang-kadang manusia sebelum menjadi orang kaya dia peramah, tapi setelah menjadi orang kaya sifat peramahnya menghilang apalagi kepada orang yang tidak berpunya. Penyebab lain adalah keturunan. Orang yang berdarah biru misalnya sering merasa lebih mulia dari orang biasa. Hal ini sangat mempengaruhi cara bergaulnya, kurang berintegrasi dengan masyarakat yang bukan kelasnya. Yang paling parah lagi adalah orang yang diberi kekuasaan untuk mengurus kepentingan orang banyak, tapi karena sesuatu hal dia tersinggung secara pribadi menyebabkan dengan enteng meninggalkan tugasnya tanpa memikirkan kebutuhan orang banyak/bangsa. Tindakan ini timbul karena rasa sombong yang menggebu.
Yang ketujuh adalah munafik, jenis manusia yang hidupnya dipenuhi sifat penuh kepura-puraan. Kalau berjanji mengingkari janji, kalau bersahabat mengkhianati persahabatan, hidupnya penuh kepalsuan. Orang jenis ini sangat berbahaya karena merupakan musuh dalam selimut. Tipe manusia ini adalah tipe manusia oppurtunis. Segala macam pengkhianatan dan dusta dapat ditempuh demi untuk mendapatkan keuntungan buat dirinya atau kelompoknya.
Penyakit-penyakit tersebut di atas berpengaruh kurang baik terhadap kehidupan bermasyarakat, malahan kadang-kadang berdampak sangat merusak baik terhadap manusia maupun terhadap lingkungan. Tapi sayangnya orang yang dihinggapi penyakit ini tidak merasa sakit, malahan merasa bangga terhadap penyakit tersebut dan dianggap sebagai motivator dalam perjuangan hidupnya.





BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Manusia itu terdiri dari jasmani dan rohani. Jasmani adalah bagian yang kasar, yang menurut Tuhan penciptanya, diciptakan dari tanah. Adapun rohani adalah bagian yang halus, yang dirahasiakan Tuhan tentang hakekatnya. Jasmani dan rohani manusia rentan terhadap berbagai penyakit baik penyakit yang dapat disembuhkan dengan bantuan medis sampai penyakit yang dapat menyesatkan manusia didunia dan diakhirat. Penyakit tersebut adalah penyakit jasmani dan penyakit rohani. Penyakit jasmani adalah penyakit badan, penyakit yang tampak dan dapat kita rasakan, penyakit jasmani hanya kita saja yang dapat merasakan sedangkan orang lain tidak mampu merasakan. Adapun penyakit rohani adalah sifat dan sikap yang buruk dan merusak rohani, yang akan mengganggu kebahagiaan manusia, merintanginya untuk memperoleh keridhaan Allah dan mendorongnya untuk berbuat buruk dan merusak yang disebabkan oleh yang disebabakan oleh nafsu, syetan, dan orang kafir.
2.      Saran
Sebagai manusia yang menjalani kehidupan di dunia beserta problematikanya, kita harus pandai-pandai menjaga diri agar terhindar dari berbagai penyakit yang dapat merusak diri dan akhlak kita. Kita harus mampu membawa diri untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kita juga harus dapat menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dan rohani agar dapat menjadi manusia yang senantiasa bersyukur atas segala pemberian Allah SWT.









Daftar Pustaka

0 komentar:

Poskan Komentar