Sabtu, 08 Desember 2012

HIV dan AIDS



BAB I
PENDAHULUAN
I.1     Latar Belakang
HIV/AIDS merupakan penyakit yang sangat berbahaya bagi manusia. Jumlah kematian akibat penyakit ini semakin hari semakin bertambah. Hal ini perlu dipahami karena kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai penyakit HIV/AIDS itu sendiri. Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa penyakit HIV/AIDS hanya dapat tertular jika kita selalu melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berbeda-beda. Padahal pada hakikatnya, HIV/AIDS tidak hanya menular dari hubungan seksual melainkan dapat pula menular dari berbagai media seperti jarum suntik, pendonoran darah yang tidak hati-hati dan lain sebagainya.
Maka dari itu kami memutuskan untuk membuat makalah mengenai Kerentanan Penularan HIV/AIDS agar pembaca dapat lebih memahami bagaimana penularan HIV/AIDS itu sendiri serta memahami mengapa golongan wanita dan orang yang berstatus sosial lemah lebih rentan tertular HIV/AIDS.
I.2     Rumusan Masalah
1.    Apakah defenisi dari HIV ?
2.    Apakah defenisi dari AIDS ?
3.    Bagaimana epidemiologi HIV/AIDS ?
4.    Bagaimana kerentanan penularan HIV/AIDS ?
5.    Bagaimana pengobatan terhadap penyakit HIV/AIDS ?
6.    Bagaimana pencegahan terhadap penularan HIV/AIDS ?

I.3     Tujuan
1.    Mengetahui serta memahami defenisi dari HIV
2.    Mengetahui serta memahami defenisi dari AIDS
3.    Mengetahui serta memahami bagaimana epidemiologi HIV/AIDS
4.    Mengetahui serta memahami bagaimana kerentanan penularan HIV/AIDS
5.    Mengetahui serta memahami bagaimana pengobatan penyakit HIV/AIDS
6.    Mengetahui serta memahami pencegahan terhadap penularan HIV/AIDS
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Defenisi HIV
HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yaitu sejenis retrovirus RNA yang dapat menyebabkan penyakit AIDS  dimana virus ini tidak dapat berkembang sampai ia masuk ke sel target. Virus ini menyerang manusia dan menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi. Dengan kata lain, kehadiran virus ini dalam tubuh akan menyebabkan defisiensi sistem imun.  Secara morfologis, HIV terbagi menjadi dua bagian besar yaitu :
a.    Selubung
Selubung virus berasal dari membran sel inang yang sebagian besar tersusun dari lipida. Di dalam selubung terdapat bagian yang disebut protein matriks.
b.    Bagian Inti
Bagian inti  dari HIV terdiri dari dua komponen utama, yaitu genom dan kapsid. Genom adalah materi genetik pada bagian inti virus yang berupa dua kopi utas tunggal RNA. Sedangkan, kapsid adalah protein yang membungkus dan melindungi genom.

II.2 Defenisi AIDS
AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome yaitu sekumpulan gejala dari infeksi atau sindrome yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi retrovirus HIV. Kasus pertama dari HIV/AIDS ditemukan pada tahun 1981 di San Fransisco pada seorang gay. Masa inkubasi AIDS yaitu mulai dari terjadinya infeksi sampai timbulnya gejala penyakit.
Berbagai gejala AIDS umumnya tidak akan terjadi pada orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan kondisi tersebut akibat infeksi oleh bakteri, virus, fungi dan parasit, yang biasanya dikendalikan oleh unsur-unsur sistem kekebalan tubuh yang dirusak HIV. Infeksi oportunistik umum didapati pada penderita AIDS. HIV memengaruhi hampir semua organ tubuh. Biasanya penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik  seperti demam, berkeringat, pembengkakan kelenjar, kedinginan, merasa lemah, serta penurunan berat badan.
II.3 Epidemiologi HIV/AIDS
Pada zaman seklaharang ini, penyakit HIV/AIDS telah merupakan pandemi, yang menyerang jutaan penduduk dunia, pria, wanita bahkan anak-anak. Epidemiologi HIV/AIDS terbagi menjadi tiga, yaitu :
a.       Perkembangan HIV/AIDS di dunia
Sejumlah 5.8 juta penduduk dunia telah meninggal akibat AIDS. 1.3 juta diantaranya bayi dan anak-anak. AIDS telah menjadi penyebab kematian utama di Amerika Serikat, Afrika, dan Thailand. Di Zambia, epidemi AIDS telah menurunkan usia harapan hidup dari 66 tahun menjadi 33 tahun, di Zimbabwe akan menurun dari usia 70 tahun menjadi 40 tahun. Di Uganda akan turun dari 59 tahun menjadi 31 tahun pada tahun 2010.
b.      Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia
Beberapa data statistik kasus HIV/AIDS di indonesia dari tahun 1987-2006.










Dari tabel di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa jumlah penderita penyakit HIV/AIDS terus mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahunnya.
Sedangkan statistik kasus HIV/AIDS di Indonesia berdasarkan jenis kelamin/sex yang dilaporkan sampai dengan Desember 2011menurut sumber Ditjen PP & PL Kemenkes RI.






Jumlah kumulatif kasus AIDS menurut faktor resikonya dapat digambarkan oleh tabel di bawah ini :






Serta jumlah kumulatif HIV/AIDS menurut golongan umur digambarkan oleh tabel di bawah ini :

c.       Perjalanan Virus HIV/AIDS
Pada saat seseorang terkena infeksi virus HIV, maka diperlukan waktu 5 sampai 10 tahun untuk sampai ke tahap yang disebut sebagai AIDS. Setelah virus masuk ke dalam tubuh manusia, selama 2-4 bulan virus belum bisa terdeteksi dengan pemeriksaan darah meskipun virusnya sendiri sudah ada dalam tubuh manusia. Tahap ini disebut sebagai periode jendela (window period). Sebelum masuk pada tahap AIDS, orang tersebut dinamakan orang dengan HIV+  karena dalam darahnya terdapat virus HIV.
 HIV hanya bisa hidup di dalam cairan tubuh seperti:
§   Darah
§   Cairan vagina
§   Cairan sperma
§   Air susu ibu
Berbagai infeksi dan kondisi AIDS dengan memperkenalkan sistem tahapan untuk pasien yang terinfeksi dengan HIV-1. Sistem ini diperbarui pada bulan September tahun 2005. Kebanyakan kondisi ini adalah infeksi oportunistik yang dengan mudah ditangani pada orang sehat.
§  Stadium I: infeksi HIV asimtomatik dan tidak dikategorikan sebagai AIDS
§  Stadium II: termasuk manifestasi membran mukosa kecil dan radang saluran pernapasan atas yang berulang
§  Stadium III: termasuk diare kronik yang tidak dapat dijelaskan selama lebih dari sebulan, infeksi bakteri parah, dan tuberkulosis.
§  Stadium IV : termasuk toksoplasmosis otak, kandidiasis esofagus, trakea, bronkus atau paru-paru dan sarkoma kaposi. Semua penyakit ini adalah indikator AIDS.

II.4 Kerentanan Penularan HIV/AIDS
Kerentanan penularan HIV/AIDS dibagi menjadi dua, yaitu :
a.    Kerentanan Penularan HIV/AIDS Menurut Gender
Wanita lebih rentan terhadap penularan HIV akibat faktor anatomis-biologis. Kondisi anatomis-biologis wanita menyebabkan struktur panggul wanita dalam posisi 'menampung', sementara alat reproduksi yang cenderung letaknya lebih ke dalam daripada pria. Keadaan ini menyebabkan mudahnya terjadi infeksi tanpa diketahui oleh yang bersangkutan. Adanya infeksi tersebut memudahkan masuknya virus HIV.
Mukosa (lapisan dalam) alat reproduksi wanita juga sangat halus dan mudah mengalami perlukaan pada saat melakukan hubungan seksual. Perlukaan ini juga memudahkan terjadinya infeksi virus HIV.
b.    Kerentanan Penularan HIV/AIDS Menurut Status Sosial
Faktor sosiologis-gender berkaitan dengan dianggap rendahnya status sosial wanita dalam hal pendidikan, ekonomi, keterampilan. Akibatnya, kaum wanita dalam keadaan rawan yang menyebabkan terjadinya pelecehan dan penggunaan kekerasan seksual, dan terjerumus dalam tindak pelecehan dan penyimpangan seksual. Lalu terjerumus ke dalam pelacuran. Dari status sosial yang lemah itu pulalah, ada beberapa wanita yang justru tidak terjerumus kedalam pelacuran namun tetap tertular penyakit HIV/AIDS, hal ini juga bisa saja diakibatkan oleh tertularnya wanita tersebut dari suaminya yang pengidap HIV .
Orang yang berstatus sosial lemah (miskin) lebih mudah tertular HIV/AIDS, karena :
v  Tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai bahaya HIV/AIDS karena tidak mendapatkan edukasi yang maksimal.
v  Tinggal di lingkungan yang sanitasinya buruk
Permasalahan HIV/AIDS di banyak negara memang memperlihatkan fenomena gunung es atau kuda nil, artinya kasus yang tampak dalam kehidupan sehari-hari jauh lebih kecil dibandingkan kasus yang sesungguhnya.
II.5 Pengobatan HIV/AIDS
Sampai saat ini tidak ada vaksin atau obat untuk HIV atau AIDS. Metode satu-satunya yang diketahui untuk pencegahan didasarkan pada penghindaran kontak dengan virus atau, jika gagal, perawatan antiretrovirus secara langsung setelah kontak dengan virus secara signifikan, disebut post-exposure prophylaxis (PEP).
Penanganan infeksi HIV terkini adalah terapi antiretrovirus yang sangat aktif (highly active antiretroviral therapy, disingkat HAART). Pilihan terbaik HAART saat ini, berupa kombinasi dari setidaknya tiga obat (disebut "koktail) yang terdiri dari paling sedikit dua macam (atau "kelas") bahanantiretrovirus. Kombinasi yang umum digunakan adalah nucleoside analogue reverse transcriptase inhibitor (atau NRTI) dengan protease inhibitor, atau dengan non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI). Karena penyakit HIV lebih cepat perkembangannya pada anak-anak daripada pada orang dewasa, maka rekomendasi perawatannya pun lebih agresif untuk anak-anak daripada untuk orang dewasa.
Perawatan HAART memungkinkan stabilnya gejala dan viremia (banyaknya jumlah virus dalam darah) pada pasien, tetapi ia tidak menyembuhkannya dari HIV ataupun menghilangkan gejalanya. HIV-1 dalam tingkat yang tinggi sering resisten terhadap HAART dan gejalanya kembali setelah perawatan dihentikan.
II.6 Pencegahan HIV/AIDS
Cara mencegah terinfeksi virus HIV terbilang sangat sederhana. HIV dapat dicegah dengan formula A-B-C-D-E.
A = Abstinence, artinya tidak melakukan hubungan seks di luar nikah.
B = Be faithful, yaitu setia kepada satu pasangan.
C = Condom, mempergunakan kondom saat berhubungan seksual, jika Anda adalah seorang pengidap HIV, atau mempunyai perilaku yang rentan terinfeksi virus HIV.
D = Don't inject, artinya tidak memakai narkoba suntik, atau menggunakan jarum suntik secara bergantian.
E = Education, artinya memperbanyak pengetahuan mengenai HIV/AIDS.
Selain itu, pencegahan AIDS untuk ibu hamil yang merupakan pengidap HIV+ kepada bayi yang dikandungnya dapat dilakukan dengan cara mengubah proses persalinan menjadi operasi caesar juga diusahakan agar tidak menyusui secara langsung.
Namun formula A-B-C-D-E ini terkadang tidaklah secara utuh ampuh untuk mengurangi penularan penyakit HIV/AIDS. Karena bagaimanapun kita memberikan penjelasan secara mendetail mengenai bahaya HIV/AIDS pada masyarakat, ada saja masyarakat yang tidak memperdulikan penjelasan tersebut. Bahkan penggunaan kondom yang telah disosialisasikan secara besar-besaran terbukti kurang ampuh untuk mengurangi penularan HIV/AIDS. Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa penggunaan kondom dalam melakukan hubungan seksual tidaklah sama baiknya dengan tidak menggunakan kondom itu sendiri. Sehingga mereka memilih untuk tidak menggunakan kondom walaupun mereka sebenarnya tahu bahaya dari tidak memakai kondom dalam melakukan hubungan seksual apalagi hubungan tersebut dilakukan dengan orang yang berbeda-beda.
Jadi, cara yang terbaik dalam mengurangi penularan HIV/AIDS menurut kelompok kami yaitu perlunya menanamkan nilai religius yang tinggi kepada masyarakat. Penanaman nilai religius ini dapat dilakukan dengan cara mengurangi program TV, buku, lagu, lukisan dan lain-lain yang dapat memungkinkan tumbuhnya hasrat  negatif seksualitas seseorang. Apabila telah tertanam nilai religius yang baik dalam diri kita maka kita tidak akan berusaha untuk mencurangi pasangan kita serta mengetahui bahwa melakukan seks serta menggunakan narkoba adalah perbuatan yang sangat dilaknat oleh sang pencipta.











BAB III
PENUTUP
III. 1 Kesimpulan
HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yaitu sejenis retrovirus RNA yang dapat menyebabkan penyakit AIDS  dimana virus ini tidak dapat berkembang sampai ia masuk ke sel target.
AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome yaitu sekumpulan gejala dari infeksi atau sindrome yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi retrovirus HIV.
Kerentanan terhadap penularan HIV/AIDS dibagi menjadi dua yaitu kerentanan penularan HIV/AIDS berdasarkan jenis kelamin (gender) dan kerentanan penularan HIV/AIDS berdasarkan status sosial.
Sampai saat ini tidak ada vaksin atau obat untuk HIV atau AIDS. Metode satu-satunya yang diketahui untuk pencegahan didasarkan pada penghindaran kontak dengan virus atau, jika gagal, perawatan antiretrovirus secara langsung setelah kontak dengan virus secara signifikan, disebut post-exposure prophylaxis (PEP).
Cara mencegah terinfeksi virus HIV terbilang sangat sederhana. HIV dapat dicegah dengan formula A(Abstinence) –B (Be faithful ) – C (Condom ) – D(Don't inject) – E (Education) .
III.2 Saran
Setelah menguraikan penjelasan mengenai kerentanan penularan HIV/AIDS. Kami menyarankan kepada pembaca untuk menjauhi segala faktor yang dapat memungkinkan seseorang tertular HIV/AIDS dan lebih berhati-hati dan meningkatkan higiene pribadi dan sosial agar sistem imun kita dapat bekerja dengan lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA

0 komentar:

Poskan Komentar